Abstract
<jats:p>Artikel ini mengulas tantangan dan peluang dalam mewujudkan industri kelapa sawit berkelanjutan melalui penguatan kolaborasi antara Indonesia, Tiongkok, dan India sebagai tiga aktor utama dalam rantai pasok global minyak sawit. Meskipun Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam menurunkan deforestasi, memperkuat kerangka keuangan berkelanjutan, dan mengembangkan standar sertifikasi, implementasi di lapangan masih menghadapi persoalan kredibilitas verifikasi, keterlacakan (traceability), ketimpangan beban kepatuhan bagi petani swadaya, serta terbatasnya insentif finansial bagi pelaku usaha yang menerapkan praktik berkelanjutan. Artikel ini menekankan bahwa keberhasilan transisi menuju sawit berkelanjutan tidak cukup bergantung pada regulasi dan sertifikasi, tetapi juga memerlukan reformasi arsitektur pembiayaan, peningkatan kapasitas sektor perbankan dalam menilai risiko ESG, serta harmonisasi standar keberlanjutan lintas negara. Dengan Indonesia sebagai produsen utama serta Tiongkok dan India sebagai pasar terbesar, pembentukan mekanisme pengakuan bersama atas standar, taksonomi keuangan, dan sistem verifikasi menjadi kunci untuk menciptakan insentif pasar yang adil sekaligus mempercepat transformasi sektor sawit menuju keberlanjutan yang kredibel, inklusif, dan berdaya saing global.</jats:p>