Abstract
<jats:p>Mitologi purba Nusantara sering kali diposisikan sebagai narasi didaktik yang statis. Penelitian ini bertujuan melakukan rekontekstualisasi legenda Sangkuriang ke dalam platform seni media baru berupa instalasi mozaik digital interaktif. Melalui metode kualitatif berbasis praktik (practice-led research), istilah "Sangkuriang" didekonstruksi secara filosofis menjadi konsep Sangka-Ku-Riang, sebuah representasi atas prasangka ego manusia yang keliru dalam mengendalikan realitas. Transformasi konseptual ini diartikulasikan ke dalam parameter komputasi visual menggunakan pustaka WebGL, di mana dinamika psikologis tokoh diterjemahkan melalui fluktuasi gerakan partikel mozaik fluid, kerapatan grid geometris, hingga manipulasi pencahayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika disrupsi melalui glitch art (micro-stuttering dan total system crash) efektif bertindak sebagai penanda semiotik untuk mengomunikasikan krisis identitas dan ledakan emosi mentah tokoh utama. Fase akhir penataan bentuk menjadi siluet gunung mencerminkan sublimasi estetika kontemplatif yang mengunci kekacauan data ke dalam ruang stabilitas. Secara kultural, artikulasi ini selaras dengan kosmologi Sunda mengenai darmaning satria, yang menegaskan bahwa ambisi ego manusia pada akhirnya harus tunduk pada hukum ketetapan alam. Penelitian ini menawarkan kebaruan metode dalam mengkonservasi warisan tradisi tradisi menjadi entitas digital yang hidup dan adaptif terhadap perkembangan zaman. </jats:p>